Rindu

Telah ku pejamkan mata hatiku 

Sebisa mungkin menahan rasa

Rasa yang takkan pernah bisa kuutarakan

Namun rindu telah membakar kokohnya dinding hati ini

Seakan tak ada tempat lain yang lebih layak untuk terbakar

Aku terbakar…

Rindu kembali membuka jalan untuk rasa ini

Menjalar keseluruh aliran darah

Bergejolak seirama dengan cepatnya detak jantungku

Bantu aku,

Bantu aku membunuh rasa ini…

Muaraku – [short] Part 3

Dua bulan baru saja berlalu dan project yang kukerjakan telah selesai, sang Bos amat senang dengan hasil kerjaku dan akhirnya dia memutuskan untuk memberiku cuti selama satu minggu. Aku fikir ini benar-benar berlebihan. Beliau bilang, “Kamu sudah bekerja keras, Re. Liburlah dulu, cari penyegaran.”  Beliau memang baik tapi terkadang aku malah menganggapnya sok tahu, Aku ini sedang ingin giat bekerja malah diberi libur. Aku hanya ingin ada kesibukan, sesuatu yang bisa kukerjakan. Bagiku, bekerja dengan pekerjaan yang kusukai ini sudah termasuk dari waktu istirahatku. Istirahat dari pikiran-pikiran aneh yang akan muncul kalau aku tidak bekerja. Aku pun sempat menolak cuti ini dan berkata bahwa aku sedang tidak ingin beristirahat, tapi, Sang Bos hanya tersenyum nanggung dan membalas, “Sudah, tidak usah sungkan. Pokoknya saya tidak mau lihat kamu seminggu ini di kantor.” lalu tanganya bergerak kedepan dan belakang mengisyaratkan ku agar segera keluar dari ruangannya dan tidak berkata apa-apa lagi. Kalau sudah begini, aku hanya bisa terima saja.

Bandung

“Apa? Kamu mau bekerja? Terus S2 mu bagaimana?” 

“Sepertinya ditunda dulu, Bu.” 

“Nak, kesempatan ini belum tentu datang dua kali, lho. Kalau kamu ambil kan nantinya bakal dapet pekerjaan lebih mudah dengan jabatan yang lebih baik juga. Coba difikirkan dahulu..” 

“Ini semua sudah saya fikirkan matang-matang, Bu…”

***

Makau

Terpaksa menjalani hari-hari liburku, sekarang aku terdampar di Macau, yang katanya, Las Vegas-nya Asia. Aku baru sampai disini di hari kedua dari total tujuh hari liburku. Setelah hari pertama tenggelam dalam bosan terperangkap dirumah, malamnya Reza memeberitahu bahwa besok kami akan berangkat menuju Makau. Supaya aku gak mengurai jadi debu dikamar, katanya. Reza tak lagi menjadi partner kerjaku, kini Ia sudah punya perusahaan sendiri di bidang advertising. Memang tidak besar, tapi bisnisnya lumayan maju. Dan satu lagi, aku juga sudah tidak memanggilnya ‘Mas Reza’ lagi. Kembali mengenai liburanku, aku agak tidak bersemangat pergi ke Negara ini. Pengetahuanku tentang Macau memang agak kurang jadi aku juga tidak tahu apa saja wisata yang bisa menarik perhatianku disini. 

Matahari telah mengumpat kembali dan aku bertemu bulan di Makau. Tanpa membuang waktu Reza langsung mengajakku berkeliling malam ini juga. Tujuan pertama adalah, restoran. Kami pun langsung menuju sebuah restoran rekomendasi dari teman kami yang terletak di dekat Outer Harbour Ferry Terminal. Disana menjual aneka masakan india, sesuai namanya Taste of India. Setelah masalah perut teratasi, kami langsung bergegas menuju Hotel untuk beristirahat. Reza sudah memesan kamar di salah satu Resort terkenal, The Venetian Resort. Aku yang tidak tahu-menahu tentang Makau langsung takjub sesampainya disana. Rasa ingin beristirahat seakan hilang seketika melihat indahnya interior dan bentuk dari Resort ini. Resort ini benar-benar terlihat glamor dengan adanya kasino yang merupakan salah satu terbesar di dunia dan mall-nya, begitu juga elegan dengan interior yang terlihat lebih ke-eropa-an serta gondola layaknya di Venesia. Kini aku tahu mengapa Negri ini disebut Las Vegas from East. 

“Za, ini indah banget! Kenapa kamu selalu jago,sih nyari tempat indah kayak gini?!” ujarku kagum.

“Gak usah sampe bengong gitu, ini cuma salah satu dari seribu daftar tempat indah buat kita lewatin berdua di seluruh benua ini. Itu udah jadi keahlianku, tau.” candanya sambil membenarkan kerah bajunya.

“Dasar kamu!” aku memukul pelan pundaknya.

“Jadi gimana? Masih mampu berpesta sepanjang malam ini?” tantangnya.

Kami segera memasuki kamar kami masing-masing untuk menaruh barang dan membersihkan badan. Berganti pakaian semi-formal dan berdandan sebaik mungkin, Kami siap untuk dunia malam Makau!

-to be continued

Muaraku – Part 2

Tak lama setelah pesawat take off Mas Reza langsung memejamkan matanya dan tidur di kursi pesawat. Bagaimana bisa Ia malah tertidur pulas disebelahku setelah mengatakan hal yang sangat personal seperti tadi? Apakah Ia hanya bercanda? Ah, tapi Maz Reza bukan tipe yang akan bercanda seperti itu. Omonganya benar-benar membuatku gila. Semuanya terdengar sama seperti apa yang dikatakan Lily, Aku jadi takut apa jangan-jangan Lily selama ini mempunyai bakat cenayang dalam dirinya. Oke, itu berlebihan, tapi ini semua berhasil membuatku terjaga hingga aku mendarat di Kalimantan.

[Flashback End]

“Andre ya?” tanyaku memastikan.

“Iya! Ya, ampun! Sudah berapa lama ya kita nggak ketemu? Bytheway, kamu lagi buru-buru ya?” 

“Iya nih, Ndre. Maaf banget ya, boleh aku yang naik taksi duluan?” 

“Oh yaudah kalo gitu, Nggak apa-apa kok.”

“Oke, thanks ya, Ndre. Sampe ketemu lagi!”

“Re…” panggil Andre lagi seraya menghentikan tanganku yang berusaha menutup pintu taksi.

“Iya, kenapa lagi, Ndre?” tanyaku.

“Ini nomorku, lain waktu nanti kita bertemu ya…” secarik kertas kecil bertuliskan urutan beberapa angka itu diberikannya kepadaku.

“Oh, oke, pasti deh itu. Nanti Ku kabari ya! Bye Ndre!” jawabku sambil langsung menutup pintu dan memberi arah kepada sang supir kemana aku ingin diantar.

*****

Aku masih duduk di sudut salah satu coffee shop di La piazza ini. Klienku sudah pulang dan hasil pertemuan kami ini cukup memuaskan hari ini. Begitu banyak keberuntungan yang muncul hari ini, tapi masih saja otakku terasa melayang entah kemana, entah memikirkan apa. Aku mengeluarkan kertas yang diberikan Andre tadi pagi. Kertas berisi nomor dari Andre, Andre mantanku itu, Andre yang dulu sempat merubah hidupku, Andre yang entah saat ini ku benci atau masih ku cinta. Dia muncul dihadapanku bak sihir. Sihir yang bahkan belum diucapkan mantranya. Aku tidak tahu datangnya darimana sihir itu, yang aku tahu, sihir itu berhasil membuatku tercengang. Tersadar bahwa sudah semakin malam aku pun pulang.

Hari – hariku berikutnya berjalan seperti biasa dan kini aku mengambil project pekerjaan yang agak banyak untuk dua bulan kedepan. Sebenarnya ini salah satu trikku agar sibuk dan tidak memikirkan hal-hal yang tidak berguna seperti kemarin. Sesuai perkiraanku, pekerjaanku berjalan lancar dan aku tidak merasa terbebani. Aku malah semakin handal dalam menangani berbagai macam karakter klienku. Aku juga masih sempat untuk sekedar kongkow-kongkow di cafe bersama Lily atau teman kerjaku sepulang bekerja dan yang lebih baik lagi, Aku tidak punya waktu untuk memikirkan kembalinya Andre. Bahkan kertas yang ia berikan saja entah aku simpan dimana, aku lupa, nomornya juga belum sempat aku simpan. Jadi, tidak ada jalan untukku lari menujunya lagi. Terkadang aku tersenyum sendiri memikirkan ini, Aku merasa lebih kuat dengan bersikap seperti ini.

Setelah kesibukkanku ini berjalan sekitar satu bulan lebih, suatu siang di hari sabtu Lily menghubungiku,

“Re, lagi dimana?”

“Di rumah, kenapa, Ly?”

“Lo kok nggak cerita, sih kalo Andre udah di jakarta lagi?” aku kaget Lily menanyakan hal semacam itu.

“Eh, iya, Ly. Tapi itu gue taunya juga cuma karena ketemu di jalan sekitar sebulan yang lalu. Sehabis itu gue nggak tau dia ada dimana. Kita gak komunikasi, Ly. Emang kenapa, sih?” tanyaku makin bingung.

“Nggak komunikasi? Oh, yaudah kalo gitu. Enggak apa-apa sih, gue dapet kabar dari Nandi temen kita jaman SMA itu katanya Andre lagi di jakarta terus nyari lo. Gue pikir lo udah sering ketemu lagi…” 

“Dia kesini buat nyari gue?” aku memastikan.

“Iya, makanya gue takut lo bakal ada apa-apa lagi nanti sama dia. Gue bener-bener nggak rela deh kalo temen gue ini dibuat bodoh lagi nanti sama dia.” oceh Lily.

Andre kesini hanya untuk mencari aku. Ada apa memangnya? Jangan-jangan dia masih serius dengan ucapannya waktu itu… Tidak, tidak mungkin. Dulu dia kan masih belum bisa berfikir dewasa, pasti omonganya hanya asal sebut saja. Iya, pasti hanya asal sebut. Tapi berarti untuk apa mencariku lagi?

“Re???!!!” suara Lily mengagetkanku yang otomatis langsung menjauhkan telepon dari telingaku

“Eh iya, Ly. Enggak mungkinlah, sekarang yang gue pikirin kan cuma pekerjaan sama Reza aja. Gada tempat deh buat Andre. Jadi, gausah khawatir say, oke?” aku mencoba meyakinkan Lily untuk tidak begitu khawatir.

“Ya, i trust you, say. Tapi inget ya, kalau udah mulai terjadi apa-apa sama kalian lo gak boleh absen cerita ke gue! I’ll happy if u happy, kok. Gue cuma gamau lo jatuh sedih lagi kayak dulu, oke.” jawab Lily.

She’s sure my bestfriend ever.

“Sip, ibu pengacara!” candaku.

[Flashback]

Jauh dari jadwal yang diperkirakan, ternyata pekerjaan dan survey kami di kalimantan selesai lebih cepat. Kami masih memiliki sisa waktu dua hari untuk beristirahat dan menikmati kota Balikpapan ini.

“Ku dengar, pantai Bunda itu bagus, lho. Wanna try to see?” tawaran mas Reza sore ini jelas sangat memikat untukku. Tanpa banyak tanya langsung aku mengangguk dan segera bersiap. Sesampainya disana aku terpana melihat indahnya pemandangan. Aku memang tipe yang sangat suka pergi ke tempat wisata alam seperti ini. Ah, rasanya ingin loncat saja masuk kedalam laut biru itu. Oh, sekedar informasi bahwa selama bekerja disini mas reza tidak sama sekali menyinggung tentang apa yang Ia katakan padaku sesaat sebelum kami naik pesawat menuju kesini. Aku memang sedikit bingung, tapi bersyukur juga, karena kalau dia masih mengungkit itu aku takkan tahu harus menjawab apa.

“Mas Reza! Disana ada restoran seafood! Makan yuk, aku laper banget” pintaku yang langsung semangat membayangkan betapa nikmatnya udang dan ikan-ikan disini. Mas Reza pun tentu tak bisa menolak. Restoran ini begitu menarik, jadi kita dapat memancing sendiri hewan laut yang ingin kita makan di sebuah kolam buatan. Tempat makannya pun berbentuk saung diatas air. Ya, memang agak susah membayangkannya, tapi yang jelas kami menghabiskan waktu di restoran ini sampai malam.

“Oke, sekarang waktunya aku yang tentuin kemana lagi kita pergi” mas Reza menentukan.

“Masih mau jalan lagi? Oke, kemana? kemana?” aku pun masih sangat bersemangat. Mas Reza tiba-tiba mengikatkan sehelai scarf menutupi kedua mataku dan melarangku untuk membantah dan mempertanyakan ini. Dia menuntunku entah kemana.  Sementara angin terasa semakin kencang melewati tangan dan leherku, mas Reza pun membuka ikatan di mataku.

“Bagaimana? Kita naik itu, ya.” kita sekarang berada di pinggir pantai dan mataku tertuju kepada sebuah boat yang tidak terlalu besar tetapi begitu unik. Warnanya abu-abu, terdapat jendela bulat berbahan kayu seperti kapal-kapal di film bajak laut dan di sisi kirinya tertulis let the seas take you to an unknown watercity. 

“Serius kita mau naik ini, mas?” tanyaku yang masih tidak percaya sambil tersenyum lebar. Ini memang bukan sesuatu yang mewah, tapi aku begitu menyukainya dan sangat excited untuk segera menaikinya.

“As long as you like it…”  jawab mas Reza.

“I am surely love this!” 

Ternyata tidak ada seorang pun didalam kapal tersebut. Aku pun agak sedikit panik apakah mas Reza dapat membawa kapal ini dengan baik namun ia mengatakan bahwa boat ini sudah dilengkapi dengan pengendali otomatis. Setelah mengatur dan mengecek semuanya apakah aman atau tidak, kami duduk dibagian depan kapal sambil memandangi indahnya lautan di malam hari seperti ini. Laut yang semula biru seketika berubah menjadi hitam, namun tetap menakjubkan.

Banyak hal yang kami bicarakan, dari mulai awal kita bertemu dan berkenalan di kantor hingga bagaimana sifat masing-masing saat dirumah. Kita memang sudah mengenal baik satu sama lain dan terus membicarakan sifat kami itu selalu terdengar menyenangkan. Di bawah rembulan yang bersinar terang, diatas kapal yang mengapung indah di atas laut hitam ini, tiba-tiba mas Reza memotong dan mengubah alur pembicaraan…

“Ini udah hari kelima setelah pernyataanku kemarin, Re. Apa kamu sudah memikirkan tentang itu?” apa yang aku takuti akhirnya muncul.

“Mas, aku nggak tahu mas ngucapin semua ini serius atau nggak. Maaf mas, tapi jujur aku nggak tahu harus jawab gimana…” aku menyerah dan menjawab apa adanya.

“Asal kamu tahu, aku serius dengan ucapanku kemarin. Empat hari ini aku nggak nyinggung tentang ini karena aku fikir kita sedang bekerja dan nggak sepantasnya membicarakan ini. Aku juga berfikir kamu pasti butuh waktu untuk memikirkan ini terlebih dahulu, kan. Mungkin menurut kamu aku terlalu mendadak, tapi aku udah mulai suka sama kamu dari dulu, dari awal aku mau denger semua keluh-kesah kamu, itu aku lakuin karena aku mau kenal lebih tentang kamu. Tapi mungkin kamu yang nggak pernah nangkep perhatian yang aku kasih.” penjelasannya membuatku pusing.

“Kamu tahu,kan gimana kecewanya aku karena hubunganku yang sebelumnya? Kamu juga tahu, kan aku nggak berpengalaman dalam masalah perasaan. Aku ini masih kekanak-kanakan, Mas. Kenapa pilih aku?” tanyaku

“Karena aku anggap diriku cukup dewasa dan bisa jaga kamu. Bisa ajari kamu gimana bangun dari rasa kecewa. Bisa tunjukkin ke kamu kalau disini ada sayang sama kamu… Tulus… Jadi tolong berhenti, berhenti menutup hati kamu.” ucapnya sambil menggenggam erat kedua telapak tanganku. Air mataku jatuh.

[Flashback End]

–To be continued.

Holidayyy!

Halooooooooooo!

Ya ampun, udah lama banget ya gak cuap-cuap disini… tapi akhirnya saya kembali ke peradaban! ;D

Yak, jadi gue bakal bercerita sedikit ya seperti biasa tp sekedar fyi gue ngepost juga beberapa foto di tanggal yang sama sebelum gue post tulisan ini. Itu foto gue sama beberapa temen gue selama liburan kali ini, aduh emang pokoknya happy bangetlah kalau ketemu temen-temen lama *dancing*

So, liburan kali ini gue abisin banyak sama temen-temen gue, terutama temen smp. Dari awal januari kita udah mulai suka ketemuan dan ngumpul. Awalnya sih, karena Dila ultah plus semua anak-anak lagi komplit-komplitnya. Komplit banget deh sekomplit nasi goreng paling komplit #apasih haha.

Januari, sering banget kita (gue dan temen-temen smp gue) ketemu di bulan ini. Layaknya dua anak smp baru pacaran yang lg ganjen-ganjenya jalan berduaan mulu. Tp seriusan, dari mulai ultah Dila, terus ultah gue sama icha, terus masak-masak bareng, berenang, nonton bertubi-tubi, sekedar ketemu dan ngobrol-ngobrol sampe malem sampe sesi pengenalan pacar dr salah satu temen kita yang super rempong. Pokoknya ketemu terus sampe bulan februari dateng dan akhirnya liburan yang memisahkan kita jua. Dila udah mulai masuk kampus duluan sama icha, terus afrah sama dona yang udah harus balik ke nangor bikin kita kepisah lagi. Rada sedih sih, abis seru banget sama mereka:( kangennya itu yampuuun…. tapi gapapa! Nanti kita bakalan ketemu lagi bulan mei ultahnya Cahya :”) belum direncanain sih bakalan ngapain buat ultah Cahya nanti, tapi yang jelas itu bocah harus sengsara nanti muehehehe :>>

Sehabis itu gue juga sempet ketemuan sama anak-anak Tirestrois, temen sekelas pas kelas tiga smk kemaren. Melepas rindu juga nih sama temen-temen yang baru pada pulang dari malay. Embay yang makin pecicilan gabisa diem, Ewe si temen curhat yang udh lama gaketemu, adhan yang sekarang pake ninja *terus?* daaan lain-lain. Kita ketemuan di salah satu cafe yang punya banyak mainan gitu. Jadilah kita seseruan abis-abisan dari permainan yang ada disana. Muka udah kedempul semua sama bedak. Abis itu gak lupa, foto-foto hahaha emang gak begitu lama sih kita ketemunya tapi lumayan serulah.

Dan baru aja kemaren, hari sabtu. Gue pergi ke bandung. Awalnya gue kesana karena ada urusan dan kebetulan temen gue Nurul & Riris mau ke bandung berhubung mereka kuliah disana dan udah masuk. Jadilah gue diajak mereka untuk kesana bareng dan gue setuju. Namun tiba-tiba semalem sebelum berangkat urusan gue disana dibatalin dan mendadak gue jadi bingung mau tetep ke bandung atau engga. Setelah dirayu-rayu maut gimana gitu sama Nurul oke, gue tetep ikut.

Riris bilang, besok kita bakal naik travel pagi jam 8. Gue, yang akhir-akhir ini bangun siang mulu walhasil tidur lebih cepet dan rada niat masang alarm sebanyak mungkin. Sip, alarm itu bekerja dan gue bangun jam 4 pagi. Gue pun udah siap sekitar jam 6. Setelah gue sadar jam delapan itu masih lama, gue iseng buka twitter dan cek mention. Tertera beberapa mention yang belum gue baca karena gue tidur lebih awal semalem. Tweet dari riris, “Besok kita jadinya jam 12 siang, yang jam 8 penuh.” Gue bengong. Yak, ternyata jadinya ambil travel yang siang. Gue sebagai anak kebo teladan akhirnya memutuskan buat tidur lagi. Bayangin, jam enam itu harus ditambah berapa jam lagi biar sampe ke jam dua belas? Lama banget kan?! Celakanya, gue gatau kalo ternyata alam mimpi itu bikin jam jalan lebih cepet ya. Pas kebangun jam menunjukkan udah setengah dua belas. Gue pandangin jam di dinding, gue liatin……… gue panik. Langsung gue pamit dan capcus ke tempat travel, sialnya gue mesti naik angkot dan jalurnya macet. Terus gue naik bis yang ngetemnya super banget lamanya, bisinglah hape gue karena telfon dari Riris. Dia udah panik nanya gue dimana karna bis travel bentar lagi udah mau berangkat. Gue yang gak kalah paniknya akhirnya turun dari bis dan naik ojek. Sesampainya gue di tempat travel…. Yak, bisnya udah jalan. Udah jalan lho. Jalan ke bandung. Oh no………

Gue udah galau setengah mampus kayak adera di lagu melewatkanmu-nya. Ngerasa geblek banget bisa ketinggalan padahal itu kan jam siang. Masih aja telat. Haduh. Sambil terbengong-bengong didepan travel temen gue nyaranin untuk ke travel sebelah cari yang keberangkatan sekarang mungkin aja masih ada. Nurutlah gue sama mereka, akhirnya gue ke travel sebelah dan ternyata gue masih dijadiin waiting list mereka…… Macem di phpin gitu. Hiduuuup guee hiduuup gueee ckck. Satu hal lagi yang gue lagi pikirin itu tujuan travel  ini gak sama sama yang biasanya gue naikin yang beraaaarti pas sampai nanti gue gatau harus lanjut naik angkot apa untuk sampe ke kosan temen gue. Setelah tanya temen gue, dia jawab begini “Jgn turun di DU. Bilang aja turun di tamansari terus naik angkot ijo” Galama hape gue mati. Nah, karena gue tau tamansari itu dimana dan gue tau angkotnya mulai sotoy lah ini kepala iya-iya aja dan gak nanya lagi (gak bisa nanya juga) Angkot ijo itu adalah angkot jurusan Caheum-Ledeng. Dimana dari tamansari gue harus naik angkot ijo itu…… gue pun naik dengan pedenya dan santai-santai aja. Abangnya teriak “Caheum ayo caheuuuum…” Gue masih stay cool. Sampai mulai lama gak nyampe-nyampe gue mulai panik. Setelah gue hayatin jalannya, pertama si angkot muter kearah baltos, terus malah ngelewatin itenas, terus berhenti di terminal…….. Hayolo. Kenapa jadi terminal?!?! Gue masih aja mikir dan gak kepikiran buat nanya. Jgn bilang gue salah arah. Gue akhirnya nanya juga sama si sopir “A, ini bener kearah setiabudi kan ya?” perasaan gue seharusnya gue ke arah ledeng. Si sopir jawab, “Oh iya, tapi itumah jauh neng di atas. Salah arah neng mah” Gue bengong. Bener. kan. gue. salah. arah. “Oh iya tadi di tamansari harusnya nyebrang dulu ya… hehe yaudah gapapa ngikut muter aja lagi deh saya” jawab gue sambil cengengesan kayak bocah ilang.

Yaaa, dan akhirnya gue jadi muter-muter di jalanan bandung yang super macet itu karena fyi aja itu malem minggu-_- sampe kosan si Riris pun dia ternyata gada. Untung pas gue jalan lagi ke kosan Lano ada mereka berdua-__- ternyata mereka abis makan dan katanya panik mikirin gue ganyampe-nyampe. Lebih parahnya ternyata Eki sama imam nyamperin ke pool travelnya dari tadi sore nungguin gue. Haduh haduh maaf yaaa jadi ngerepotin tapi emang seru sih nyasar di kota orang gitu hahahaha. Lagian juga gue jadi makin tahu jalan terus jiwa bolangnya makin ke asah gitu hahaha. Dan seperti biasa gue selalu punya temen-temen yang baik buat nemenin gue disana. Bantuin mereka nyiapin hari ‘pertama’ kuliahnya itu. Baik nyiapin peralatan sama nyiapin mental haha. Disana tuh emang cocok bgt buat getaway sejenak dari kepenatan dirumah:”) Kebersamaan sama temen-temenya… cuacanya… Ya, mudah-mudahan bisa sering main-main kesana ya. Gak cuma ke bandung, tapi bisa backpacker ke kota-kota lain. Tidung dan jogja jadi tujuan selanjutnya. Mudah-mudahan jadi :))))

Todays word–

Enjoy every minute of your life because youre only live once!