Percakapan malam tadi.

Awalnya, terasa bahagia. Karena terlalu bahagia, aku melewatkan waktu begitu cepat tanpa terasa. Sekarang waktunya sudah habis. Aku harus keluar dan membiarkan orang lain bergantian masuk.

“Semua akan berjalan tetap sama seperti biasa.” Dia meyakinkan.

Aku tidak senaif itu, kawan. Tapi, kehendak Tuhan memang tidak bisa di tawar.

“Taatlah pada Tuhanmu. Kalau tidak, hati kita yang mati malam ini takkan ada bedanya dengan mayat seorang pembunuh. Jadikanlah kematian hati kita layaknya seorang yang melakukan pengorbanan untuk Tuhan atau dalam bahasamu, mati syahid. Mulailah belajar menyangi diri sendiri.”

Sejak kapan dia pandai berbahasa.

Singkat kata, aku menerima ini semua dan berharap omongannya bagai seuntai kalimat dalam Hadits, yang sudah pasti kebenarannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s