PROFILE OF THE DAY – KANG GARY (개리) “LEESSANG”

Gary_KangKang Gary yang memiliki nama asli Kang Hee Gun adalah seorang entertainer dari Negara gingseng, Korea Selatan. Ia lahir pada tanggal 24 Februari 1978 dan saat ini bertempat tinggal di daerah Jamsil. Semasa sekolah, Gary memang lebih tertarik mengenai dance daripada music atau bernyanyi  dan sudah bercita-cita menjadi selebritis di Korea. Ia membuat nama panggungnya menjadi ‘Gary’ karena panggilan yang dimilikinya, yaitu ‘Geh’ yang berarti anjing dalam bahasa korea. Di masa sekolahnya inilah ia sudah mulai tampil sebagai penari latar dan pernah memenangkan beberapa kejuaraan menari. Gary juga sempat belajar di Universitas Yongsin namun akhirnya dikeluarkan. Menjelang usia 20, Gary mulai menggeluti bidang olahraga tinju (boxing) hingga kurang lebih 10 tahun dan berhasil menjadi petinju walaupun masih agak amatir.

Karirnya mulai berjalan sejak tahun 1996 dengan bergabungnya ia ke grup musik ‘Smurfs’ dan mengeluarkan album pada bulan Desember. Di tahun 1997, Gary bergabung dengan ‘X-Teen’ hingga mengeluarkan dua album di tahun 1998 dan tahun 2000. Di X-Teen inilah Kang Gary bertemu dengan Gil partnernya dalam Leessang— dan mereka diberitahu bahwa Gary dan Gil “Tidak begitu memiliki wajah yang rupawan dan begitu juga dengan musiknya.”  Mereka pun akhirnya bergabung dengan ‘Honey Family’ yang juga mengeluarkan album pada tahun 1999 dan tahun 2000. Tidak berhenti sampai disitu, Gary beserta Gil dan Diggity membuat sebuah grup mudik trio yang dinamakan ‘Leessam Trio’ dan membuat album kompilasi berjudul, ‘2000 Korea’ di tahun 2000. Namun hanya berselang dua tahun, Diggity meninggalkan Leessam Trio dan akhirnya mengubah nama Grup musik mereka menjadi ‘Leessang’, grup yang kita ketahui saat ini.

Leessang adalah duo hip-hop yang terdiri dari Kang Gary sendiri sebagai Rapper dan sahabatnya, Gil. Leessang telah mengeluarkan lumayan banyak album dari mulai Leessang of Honey Family (2002), Leessang Special (2004), Library of Soul (2005), Black Sun (2007), Baek Jeolhyeon dan Hexagonal (2009)  di tahun yang sama, AsuRa BalBalTa (2011), dan yang paling terbaru Unplugged (2012).

Kang Gary mulai semakin dikenal dan bersinar ketika ia tergabung dalam anggota tetap sebuah acara reality di TV Korea, Running Man. Ia mukai bergabung dalam acara ini sejak tahun 2010 hingga saat ini. Karena acara ini, ia memperoleh penghargaan kategori Variety New Star Award pada tahun 2010 di SBS Entertaiment Award yang membuat dirinya sendiri takjub karena ia tidak pernah berfikir bahwa melalu acara ini ia menjadi sangat terkenal sekarang.

Sumber : Wikipedia (artikel), Google (gambar).

Lagu indah kemarin sore.

Berdua Saja

Penyanyi: Payung Teduh

 

Ada yang sempat tak tergambarkan oleh kata

Ketika kita berdua

Hanya aku yang bisa bertanya

Mungkinkah kau tahu jawabnya

 

Malam jadi saksinya

Kita berdua diantara kita

Yan tak terucap

Berharap waktu membawa keberanian

Untuk datang membawa jawaban

 

Mungkinkah kita ada kesempatan 

Ucapkan janji takkan berpisah selamanya

 

Terbiasa

Bisa karena terbiasa.

Pun aku, yang bisa menyimpan rasa ini rapat-rapat karena terbiasa untuk tidak menunjukkanya.

satu hari…

dua minggu…

satu bulan…

hingga berbulan-bulan…

Awalnya aku fikir ini hanya masalah waktu.

Bak mimpi buruk yang walaupun seseram apapun akan masih tetap menjadi sebuah mimpi. 

Mimpi yang pasti akan berakhir.

Aku fikir aku kuat.

Kuat untuk melawan emosionalnya hati ini.

Hingga aku sampai di titik akhir mimpi.

Aku fikir ini yang dinamakan kesepian.

Tidak memiliki tempat untuk bersandar atau sekedar bercengkrama.

Tidak butuh cinta,

Hanya butuh seorang untuk menggantikannya.

Agar tidak sendiri.

Agar tidak sepi.

Tapi fikiranku salah, fikiranku sia-sia.

Waktu tidak meleburkan semuanya.

Kekuatan tidak bersarang kokoh di diriku.

Kesepian tidak pernah menghampiriku sekali pun.

Ini cinta.

Dan aku hanya sudah terbiasa.

Rindu

Telah ku pejamkan mata hatiku 

Sebisa mungkin menahan rasa

Rasa yang takkan pernah bisa kuutarakan

Namun rindu telah membakar kokohnya dinding hati ini

Seakan tak ada tempat lain yang lebih layak untuk terbakar

Aku terbakar…

Rindu kembali membuka jalan untuk rasa ini

Menjalar keseluruh aliran darah

Bergejolak seirama dengan cepatnya detak jantungku

Bantu aku,

Bantu aku membunuh rasa ini…

Muaraku – [short] Part 3

Dua bulan baru saja berlalu dan project yang kukerjakan telah selesai, sang Bos amat senang dengan hasil kerjaku dan akhirnya dia memutuskan untuk memberiku cuti selama satu minggu. Aku fikir ini benar-benar berlebihan. Beliau bilang, “Kamu sudah bekerja keras, Re. Liburlah dulu, cari penyegaran.”  Beliau memang baik tapi terkadang aku malah menganggapnya sok tahu, Aku ini sedang ingin giat bekerja malah diberi libur. Aku hanya ingin ada kesibukan, sesuatu yang bisa kukerjakan. Bagiku, bekerja dengan pekerjaan yang kusukai ini sudah termasuk dari waktu istirahatku. Istirahat dari pikiran-pikiran aneh yang akan muncul kalau aku tidak bekerja. Aku pun sempat menolak cuti ini dan berkata bahwa aku sedang tidak ingin beristirahat, tapi, Sang Bos hanya tersenyum nanggung dan membalas, “Sudah, tidak usah sungkan. Pokoknya saya tidak mau lihat kamu seminggu ini di kantor.” lalu tanganya bergerak kedepan dan belakang mengisyaratkan ku agar segera keluar dari ruangannya dan tidak berkata apa-apa lagi. Kalau sudah begini, aku hanya bisa terima saja.

Bandung

“Apa? Kamu mau bekerja? Terus S2 mu bagaimana?” 

“Sepertinya ditunda dulu, Bu.” 

“Nak, kesempatan ini belum tentu datang dua kali, lho. Kalau kamu ambil kan nantinya bakal dapet pekerjaan lebih mudah dengan jabatan yang lebih baik juga. Coba difikirkan dahulu..” 

“Ini semua sudah saya fikirkan matang-matang, Bu…”

***

Makau

Terpaksa menjalani hari-hari liburku, sekarang aku terdampar di Macau, yang katanya, Las Vegas-nya Asia. Aku baru sampai disini di hari kedua dari total tujuh hari liburku. Setelah hari pertama tenggelam dalam bosan terperangkap dirumah, malamnya Reza memeberitahu bahwa besok kami akan berangkat menuju Makau. Supaya aku gak mengurai jadi debu dikamar, katanya. Reza tak lagi menjadi partner kerjaku, kini Ia sudah punya perusahaan sendiri di bidang advertising. Memang tidak besar, tapi bisnisnya lumayan maju. Dan satu lagi, aku juga sudah tidak memanggilnya ‘Mas Reza’ lagi. Kembali mengenai liburanku, aku agak tidak bersemangat pergi ke Negara ini. Pengetahuanku tentang Macau memang agak kurang jadi aku juga tidak tahu apa saja wisata yang bisa menarik perhatianku disini. 

Matahari telah mengumpat kembali dan aku bertemu bulan di Makau. Tanpa membuang waktu Reza langsung mengajakku berkeliling malam ini juga. Tujuan pertama adalah, restoran. Kami pun langsung menuju sebuah restoran rekomendasi dari teman kami yang terletak di dekat Outer Harbour Ferry Terminal. Disana menjual aneka masakan india, sesuai namanya Taste of India. Setelah masalah perut teratasi, kami langsung bergegas menuju Hotel untuk beristirahat. Reza sudah memesan kamar di salah satu Resort terkenal, The Venetian Resort. Aku yang tidak tahu-menahu tentang Makau langsung takjub sesampainya disana. Rasa ingin beristirahat seakan hilang seketika melihat indahnya interior dan bentuk dari Resort ini. Resort ini benar-benar terlihat glamor dengan adanya kasino yang merupakan salah satu terbesar di dunia dan mall-nya, begitu juga elegan dengan interior yang terlihat lebih ke-eropa-an serta gondola layaknya di Venesia. Kini aku tahu mengapa Negri ini disebut Las Vegas from East. 

“Za, ini indah banget! Kenapa kamu selalu jago,sih nyari tempat indah kayak gini?!” ujarku kagum.

“Gak usah sampe bengong gitu, ini cuma salah satu dari seribu daftar tempat indah buat kita lewatin berdua di seluruh benua ini. Itu udah jadi keahlianku, tau.” candanya sambil membenarkan kerah bajunya.

“Dasar kamu!” aku memukul pelan pundaknya.

“Jadi gimana? Masih mampu berpesta sepanjang malam ini?” tantangnya.

Kami segera memasuki kamar kami masing-masing untuk menaruh barang dan membersihkan badan. Berganti pakaian semi-formal dan berdandan sebaik mungkin, Kami siap untuk dunia malam Makau!

-to be continued

Muaraku – Part 2

Tak lama setelah pesawat take off Mas Reza langsung memejamkan matanya dan tidur di kursi pesawat. Bagaimana bisa Ia malah tertidur pulas disebelahku setelah mengatakan hal yang sangat personal seperti tadi? Apakah Ia hanya bercanda? Ah, tapi Maz Reza bukan tipe yang akan bercanda seperti itu. Omonganya benar-benar membuatku gila. Semuanya terdengar sama seperti apa yang dikatakan Lily, Aku jadi takut apa jangan-jangan Lily selama ini mempunyai bakat cenayang dalam dirinya. Oke, itu berlebihan, tapi ini semua berhasil membuatku terjaga hingga aku mendarat di Kalimantan.

[Flashback End]

“Andre ya?” tanyaku memastikan.

“Iya! Ya, ampun! Sudah berapa lama ya kita nggak ketemu? Bytheway, kamu lagi buru-buru ya?” 

“Iya nih, Ndre. Maaf banget ya, boleh aku yang naik taksi duluan?” 

“Oh yaudah kalo gitu, Nggak apa-apa kok.”

“Oke, thanks ya, Ndre. Sampe ketemu lagi!”

“Re…” panggil Andre lagi seraya menghentikan tanganku yang berusaha menutup pintu taksi.

“Iya, kenapa lagi, Ndre?” tanyaku.

“Ini nomorku, lain waktu nanti kita bertemu ya…” secarik kertas kecil bertuliskan urutan beberapa angka itu diberikannya kepadaku.

“Oh, oke, pasti deh itu. Nanti Ku kabari ya! Bye Ndre!” jawabku sambil langsung menutup pintu dan memberi arah kepada sang supir kemana aku ingin diantar.

*****

Aku masih duduk di sudut salah satu coffee shop di La piazza ini. Klienku sudah pulang dan hasil pertemuan kami ini cukup memuaskan hari ini. Begitu banyak keberuntungan yang muncul hari ini, tapi masih saja otakku terasa melayang entah kemana, entah memikirkan apa. Aku mengeluarkan kertas yang diberikan Andre tadi pagi. Kertas berisi nomor dari Andre, Andre mantanku itu, Andre yang dulu sempat merubah hidupku, Andre yang entah saat ini ku benci atau masih ku cinta. Dia muncul dihadapanku bak sihir. Sihir yang bahkan belum diucapkan mantranya. Aku tidak tahu datangnya darimana sihir itu, yang aku tahu, sihir itu berhasil membuatku tercengang. Tersadar bahwa sudah semakin malam aku pun pulang.

Hari – hariku berikutnya berjalan seperti biasa dan kini aku mengambil project pekerjaan yang agak banyak untuk dua bulan kedepan. Sebenarnya ini salah satu trikku agar sibuk dan tidak memikirkan hal-hal yang tidak berguna seperti kemarin. Sesuai perkiraanku, pekerjaanku berjalan lancar dan aku tidak merasa terbebani. Aku malah semakin handal dalam menangani berbagai macam karakter klienku. Aku juga masih sempat untuk sekedar kongkow-kongkow di cafe bersama Lily atau teman kerjaku sepulang bekerja dan yang lebih baik lagi, Aku tidak punya waktu untuk memikirkan kembalinya Andre. Bahkan kertas yang ia berikan saja entah aku simpan dimana, aku lupa, nomornya juga belum sempat aku simpan. Jadi, tidak ada jalan untukku lari menujunya lagi. Terkadang aku tersenyum sendiri memikirkan ini, Aku merasa lebih kuat dengan bersikap seperti ini.

Setelah kesibukkanku ini berjalan sekitar satu bulan lebih, suatu siang di hari sabtu Lily menghubungiku,

“Re, lagi dimana?”

“Di rumah, kenapa, Ly?”

“Lo kok nggak cerita, sih kalo Andre udah di jakarta lagi?” aku kaget Lily menanyakan hal semacam itu.

“Eh, iya, Ly. Tapi itu gue taunya juga cuma karena ketemu di jalan sekitar sebulan yang lalu. Sehabis itu gue nggak tau dia ada dimana. Kita gak komunikasi, Ly. Emang kenapa, sih?” tanyaku makin bingung.

“Nggak komunikasi? Oh, yaudah kalo gitu. Enggak apa-apa sih, gue dapet kabar dari Nandi temen kita jaman SMA itu katanya Andre lagi di jakarta terus nyari lo. Gue pikir lo udah sering ketemu lagi…” 

“Dia kesini buat nyari gue?” aku memastikan.

“Iya, makanya gue takut lo bakal ada apa-apa lagi nanti sama dia. Gue bener-bener nggak rela deh kalo temen gue ini dibuat bodoh lagi nanti sama dia.” oceh Lily.

Andre kesini hanya untuk mencari aku. Ada apa memangnya? Jangan-jangan dia masih serius dengan ucapannya waktu itu… Tidak, tidak mungkin. Dulu dia kan masih belum bisa berfikir dewasa, pasti omonganya hanya asal sebut saja. Iya, pasti hanya asal sebut. Tapi berarti untuk apa mencariku lagi?

“Re???!!!” suara Lily mengagetkanku yang otomatis langsung menjauhkan telepon dari telingaku

“Eh iya, Ly. Enggak mungkinlah, sekarang yang gue pikirin kan cuma pekerjaan sama Reza aja. Gada tempat deh buat Andre. Jadi, gausah khawatir say, oke?” aku mencoba meyakinkan Lily untuk tidak begitu khawatir.

“Ya, i trust you, say. Tapi inget ya, kalau udah mulai terjadi apa-apa sama kalian lo gak boleh absen cerita ke gue! I’ll happy if u happy, kok. Gue cuma gamau lo jatuh sedih lagi kayak dulu, oke.” jawab Lily.

She’s sure my bestfriend ever.

“Sip, ibu pengacara!” candaku.

[Flashback]

Jauh dari jadwal yang diperkirakan, ternyata pekerjaan dan survey kami di kalimantan selesai lebih cepat. Kami masih memiliki sisa waktu dua hari untuk beristirahat dan menikmati kota Balikpapan ini.

“Ku dengar, pantai Bunda itu bagus, lho. Wanna try to see?” tawaran mas Reza sore ini jelas sangat memikat untukku. Tanpa banyak tanya langsung aku mengangguk dan segera bersiap. Sesampainya disana aku terpana melihat indahnya pemandangan. Aku memang tipe yang sangat suka pergi ke tempat wisata alam seperti ini. Ah, rasanya ingin loncat saja masuk kedalam laut biru itu. Oh, sekedar informasi bahwa selama bekerja disini mas reza tidak sama sekali menyinggung tentang apa yang Ia katakan padaku sesaat sebelum kami naik pesawat menuju kesini. Aku memang sedikit bingung, tapi bersyukur juga, karena kalau dia masih mengungkit itu aku takkan tahu harus menjawab apa.

“Mas Reza! Disana ada restoran seafood! Makan yuk, aku laper banget” pintaku yang langsung semangat membayangkan betapa nikmatnya udang dan ikan-ikan disini. Mas Reza pun tentu tak bisa menolak. Restoran ini begitu menarik, jadi kita dapat memancing sendiri hewan laut yang ingin kita makan di sebuah kolam buatan. Tempat makannya pun berbentuk saung diatas air. Ya, memang agak susah membayangkannya, tapi yang jelas kami menghabiskan waktu di restoran ini sampai malam.

“Oke, sekarang waktunya aku yang tentuin kemana lagi kita pergi” mas Reza menentukan.

“Masih mau jalan lagi? Oke, kemana? kemana?” aku pun masih sangat bersemangat. Mas Reza tiba-tiba mengikatkan sehelai scarf menutupi kedua mataku dan melarangku untuk membantah dan mempertanyakan ini. Dia menuntunku entah kemana.  Sementara angin terasa semakin kencang melewati tangan dan leherku, mas Reza pun membuka ikatan di mataku.

“Bagaimana? Kita naik itu, ya.” kita sekarang berada di pinggir pantai dan mataku tertuju kepada sebuah boat yang tidak terlalu besar tetapi begitu unik. Warnanya abu-abu, terdapat jendela bulat berbahan kayu seperti kapal-kapal di film bajak laut dan di sisi kirinya tertulis let the seas take you to an unknown watercity. 

“Serius kita mau naik ini, mas?” tanyaku yang masih tidak percaya sambil tersenyum lebar. Ini memang bukan sesuatu yang mewah, tapi aku begitu menyukainya dan sangat excited untuk segera menaikinya.

“As long as you like it…”  jawab mas Reza.

“I am surely love this!” 

Ternyata tidak ada seorang pun didalam kapal tersebut. Aku pun agak sedikit panik apakah mas Reza dapat membawa kapal ini dengan baik namun ia mengatakan bahwa boat ini sudah dilengkapi dengan pengendali otomatis. Setelah mengatur dan mengecek semuanya apakah aman atau tidak, kami duduk dibagian depan kapal sambil memandangi indahnya lautan di malam hari seperti ini. Laut yang semula biru seketika berubah menjadi hitam, namun tetap menakjubkan.

Banyak hal yang kami bicarakan, dari mulai awal kita bertemu dan berkenalan di kantor hingga bagaimana sifat masing-masing saat dirumah. Kita memang sudah mengenal baik satu sama lain dan terus membicarakan sifat kami itu selalu terdengar menyenangkan. Di bawah rembulan yang bersinar terang, diatas kapal yang mengapung indah di atas laut hitam ini, tiba-tiba mas Reza memotong dan mengubah alur pembicaraan…

“Ini udah hari kelima setelah pernyataanku kemarin, Re. Apa kamu sudah memikirkan tentang itu?” apa yang aku takuti akhirnya muncul.

“Mas, aku nggak tahu mas ngucapin semua ini serius atau nggak. Maaf mas, tapi jujur aku nggak tahu harus jawab gimana…” aku menyerah dan menjawab apa adanya.

“Asal kamu tahu, aku serius dengan ucapanku kemarin. Empat hari ini aku nggak nyinggung tentang ini karena aku fikir kita sedang bekerja dan nggak sepantasnya membicarakan ini. Aku juga berfikir kamu pasti butuh waktu untuk memikirkan ini terlebih dahulu, kan. Mungkin menurut kamu aku terlalu mendadak, tapi aku udah mulai suka sama kamu dari dulu, dari awal aku mau denger semua keluh-kesah kamu, itu aku lakuin karena aku mau kenal lebih tentang kamu. Tapi mungkin kamu yang nggak pernah nangkep perhatian yang aku kasih.” penjelasannya membuatku pusing.

“Kamu tahu,kan gimana kecewanya aku karena hubunganku yang sebelumnya? Kamu juga tahu, kan aku nggak berpengalaman dalam masalah perasaan. Aku ini masih kekanak-kanakan, Mas. Kenapa pilih aku?” tanyaku

“Karena aku anggap diriku cukup dewasa dan bisa jaga kamu. Bisa ajari kamu gimana bangun dari rasa kecewa. Bisa tunjukkin ke kamu kalau disini ada sayang sama kamu… Tulus… Jadi tolong berhenti, berhenti menutup hati kamu.” ucapnya sambil menggenggam erat kedua telapak tanganku. Air mataku jatuh.

[Flashback End]

–To be continued.